Jumat, 15 Mei 2015

MAKALAH PERPADUAN ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA


BAB I
PEMBAHASAN
      A.    PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN
Pengertian ilmu, kata ilmu merupakan terjemah dari kata science, yang secara etimologi berasal dari kata latin scire, yang artinya to know. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan objektif.[1]
Ilmu adalah hasil dari pengalaman manusia dari suatu penelitian dengan melalui penelitian, dan eksperimen yang akhirnya mengambil suatu hipotesis lalu menentukan suatu kesimpulan deduktif dan induktif. Ilmu disusun berdasarkan bahasa, logika yang dapat membantu manusia memecahkan suatu masalah.[2]
Pengertian pengetahuan secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Sedangkan secara terminology ialah menurut Gazalba, pengetahuan adalah apa yang di ketahui atau usaha pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai.Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.[3]
Pengetahuan dikategorikan kepada tiga jenis :
1.      Pengetahuan inderawi, yaitu ini meliputi semua fenomena yang dapat dijangkau secara langsung oleh pancaindra.
2.      Pengetahuan keilmuan, yakni meliputi semua fenomena yang dapat diteliti dengan riset atau eksperimen, bisa dijangkau oleh rasio, atau otak dan pancaindra.
3.      Pengetahuan falsafi, yakni mencakup segala fenomena yang tak dapat diteliti, tetapi dapat dipikirkan.[4]
Imam ghazali membagi pengetahuan itu kepada tiga tingkat, yaitu pertma, Pengetahuan orang awam, maksudnya orang awam menerima pengetahuan tanpa mau menyelidiki. Contohnya, Ada orang yang mengatakan di rumah itu ada orang. Orang awam, tanpa menyelidiki kebenaran secara langsung percaya saja. Kedua, Intelektual , yaitu mereka akan menyelidiki kebenaran berita tersebut dengan mengadakan analisa data-data yang ada. Apakah benar ada orang di sekitar rumah itu. Ketiga, Para Sufi, mendapatkan berita yang seperti itu, tidak menerima saja dan tidak juga meneliti data-data yang membenarkan berita  tersebut, tetapi langsung membuka pintu rumah, sehingga mereka dapat melihat langsung orang di dalamnya.[5]
Burhanuddin  Salam mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
1.      Pengetahuan biasa,yakni pengetahuan yang dalam filsafat dkatakan dengan istilah coomonsens Dan sering diartikan dengan good sense, karena   seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik.
2.      Pengetahuan ilmu, yakni ilmu sebagai terjemahan dari science.Dalam pengertian yang sempit scince diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifat yang kuantitatif pada objektif.[6]
3.      Pengetahuan agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari tuhan lewat Rasul-rasulnya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.
4.      Keempat, pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universal dan ke dalam dan kajian tentang sesuatu.[7]
B.  PENGERTIAN ILMU AGAMA
Pengertian agama, ada tiga istilah yang dikenal tentang agama, yaitu agama, religi, dan din. Secara etimologi, kata agama berasala dari bahasa sangsekerta, yang berasal dari akar kata a dan gama.  A artinya tidak dan gama kacau. Jadi agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksud agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya.
Sedangkan kata religi ialah suatu tata kepercayaan atas adanya yang agung di luar manusia, dan suatu tata penyembah kepada yang agung tersebut.
Dan kata din ialah patuh dan taat, undang-undang, peraturan dan hari kemudian. Maksudnya, orang-orang yang ber din ialah orang yang patuh dan taat terhadap peraturan dan undang-undang Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat.[8]
Menurut Edgar sheffield   Brightiman agama ialah suatau unsur mengenai pengalaman-pengalaman yang dipandang nilai yang tertinggi, pengabdian kepada suatu kekuasaan-kekuasaan yang di percaya sebagai sesuatau yang terjadi asal muala yang menambah dan melestarikan nilai-nilai, dan  sejumlah ungkapan yang sesuai tentang urusan serta pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara-upacara yang simbolis maupun melalui perbuatan-perbuatan yang lain yang bersifat perseorangan, dan kemasyarakatan.[9]
C.    SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN
1.      Empiris
Pengalaman yang di maksud ialah pengalamn inderawi. Pancaindra mendapatkan kesan-kesan dari apa yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu berkumpul dalam diri manusia. Menurut Hume pengalamanlah yang memberikan informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang di amati sesuai dengan waktu dan tempat.[10]
Pengetahuan inderawi dan akal, menurut Al-Ghazali, tidak bisa diyakini kebenarannya. Pancaindra sering berbohong karena bayangan pohon yang dianggap oleh mata tidak bergerak, ternyata dalam waktu tertentu berpindah tempat. Akal juga demikian, ketika seseorang bermimpi tentang sesuatu, dia merasakan bahwa kejadian itu benar-benar ada dan terjadi. Namun, ketika dia bangun hal itu tidak ada sama sekali. Karena itu, Al-Ghazali menggambarkan kehidupan dunia ini bagaikan orang tidur, nanti kalau di akhirat setelah mati mereka bangun dan sadar bahwa apa yang di dunia ini semuanya berupa mimpi.[11]
2.      Rasionalisme
Rasionlisme, aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengrtahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur  dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
3.      Intuisi
Intuisi, menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi bebeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini memerlukan suatu usaha. Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pegetahuan yang nisbi.
 Dalam tasawuf, intuisi disebut dengan ma’rifah, yaitu pengetahuan yang datang dari Allah melalui pencerahan dan penyinaran.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secra teratuur, intuisi tidak dapat diandalakn. Pengetahuan dapat dipergunakan sebgaai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam mnentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Kemampuan menrima pengetahuan seacra langsung itu diperoleh dengan cara latihan yang dalam istilah disebut Riyadhah. metode ini secara umum dipakai dalam thariqat atau Tasawuf. Konon, kemampuan orang-orang itu sampai bisa melihat tuhan, berbincang dengan tuhan, melihat surga, neraka, dan alam gaib lainnya.
4.      wahyu
wahyu, adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah swt kepada manusia lewat perantara para Nabi. Para Nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya, tanpa berusha payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta . tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkannya pula jiwa mereka unutk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.[12]

D.    SUMBER-SUMBER ILMU AGAMA
1.      Alqu’an
Al-Qur’an merupakan sumber ajaran islam yang pertama dan utama. Al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat firman-firman, sama benar dengan yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, mula-mula turun di Mekkah kemudian di madinah.
Al-Qur’an yang menjadi sumber nilai dan norma umat islam itu terbagi ke dalam 30 juz, 114 surat lebih dari 6.000 ayat, 74.499 kata atau 325.345 huruf. Tentang jumlah ayat ada perbedaan pendapat di antara para ahli ilmu Al-Qur’an.
Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an yang turun sedikit demi sedikit selama 23 tahun(dibulatkan) yang isinya antara lain : 1. Pentujuk mengenai aqidah yang harus diyakini oleh manusia. 2. Petunjuk mengenai syari’at yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam berhubungan dengan Allah dan sesame manusia. 3. Petunjuk akhlak, mengenai yang baik dan buruk. 4. Kisah-kisah umat manusia di zaman masa lalu.[13]5. Janji dan ancaman. 6. Konsep ilmu pengetahuan, pengetahuan tentang masalah ketuhanan, manusia, masyarakat maupun tentang alam semesta.
2.      As-Sunnah
Etimologi,  jalan / tradisi, kebiasaan, adat istiadat, dapat juga berarti undang-undang yang berlaku.
Terminologi, berita / kabar, segala perbuatan, perkataan dan takrir ( keizinan / pernyataan ) Nabi Muhammad saw.
Kedudukan As-Sunnah apabila As-Sunnah / Hadits tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum muslimin akan mengalami kesulitan-kesulitan seperti :
1. Melaksanakan Shalat, Ibadah Haji, mengeluarkan Zakat dan lain sebagainya, karena ayat al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, sedangkan yang menjelaskan secara rinci adalah as-Sunnah / Hadits.
2. Menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, untuk menghindari penafsiran yang subyektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
3. Mengikuti pola hidup Nabi, karena dijelaskan secara rinci dalam Sunnahnya, sedangkan mengikuti pola hidup Nabi adalah perintah al-Qur’an.
4. Menghadapi masalah kehidupan yang bersifat teknis, karena adanya peraturan-peraturan yang diterangkan oleh as-Sunnah / Hadits yang tidak ada dalam al-Qur’an seperti kebolehan memakan bangkai ikan dan belalang, sedangkan dalam al-Qur’an menyatakan bahwa bangkai itu haram.[14]

3.      Ijma’
Ijma’ ialah kesepakatan semua mujtahid dari ijma’ umat Muhammad Saw. Dalam suatau masa setelah beliau wafat terhadap hokum syara’.
Pengertian di atas dapat diketahui ijma’ bisa terjadi bila memenuhi kriteri yaitu: 1. Yang bersepakat adalah para Mujtahid. 2. Bersepakat seluruh Mujtahid. 3. Mujtahid Harus Umat Muhammad Saw. 4. Dilakukan setelah Wafatnya Nabi. 5. Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan syara’.[15]
4.      Qiyas
Qiyas ialah merupakan ciptakan manusia, yakni pandangan mujtahid.  Penunjukan Abu Bakar Imam di Qiyaskan pada penunjukan beliau sebagai khalifah dan hal itu disepakati oleh semua sahabat, jelaslah bahwa qiyas merupakan landasan hokum ijma’.[16]

E.     INTERKONEKSI ANTARA ILMU PENGETAHUAN, AGAMA DAN AKHLAK
Perpaduan ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak dikonsepkan oleh Al Ghazali sebagi al ma’rifah. Al Ghazali menerangkan jalan menuju ma’rifah sebagai kerinduan rohani untuk mengenal Tuhan dengan hati nurani melalui tingkat-tingkat ilmu pengetahuan. Al ma’rifah menjadi tingkat yang tertinggi di dalam pengetahuan dan kesadaran rohani manusia terhadap Tuhan.
Al Ghazali mengemukakan hubungan yang erat dan tak terpatahkan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak. Hubungan inilah yang sedang dicari kembali dalan dunia ilmu pengetahuan modern terutama dalam bahasan mengenai islamisasi ilmu pengetahuan. Mengingat adanya kebutuhan kembali pada agama karena perkembangan jiwa manusia yang semakin lama semakin memprihatinkan, bahasan mengenai mengenal Tuhan lewat ilmu pengetahuan adalah tema yang penting.
Manusia modern dinilai telah sangat rasional. Maka, ilmu pengetahuan sudah selayaknya menjadi jalan utama mengenal Tuhan, untuk menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna.
Konsep tentang ma’rifah menjadi dasar penjelasan Al Ghazali dalam teorinya tentang “ilmu pengetahuan yang sejati”. Ia mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan tanpa amal adalah gila, sedangkan amal tanpa ilmu adalah tidak sah. Ilmu pengetahuan semata-mata tidak menjauhkan dari berbuat dosa dan kejahatan, dan tidak pula mendekatkan kepada perbuatan taat dan kebaikan sewaktu hidup di dunia. Sedangkan untuk akhirat, ilmu itu tidak sanggup membebaskan manusia dari hukuman neraka.
Al Ghazali menegaskan bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat arifin atau ma’rifah adalah mereka yang menyatupadukan ilmu pengetahuan dengan keimanan (agama), sehingga mereka memiliki hasrat untuk beramal dengan sesungguhnya dan mewujudkan pendidikan akhlak.[17]

BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu adalah hasil dari pengalaman manusia dari suatu penelitian dengan melalui penelitian, dan eksperimen yang akhirnya mengambil suatu hipotesis lalu menentukan suatu kesimpulan deduktif dan induktif. Ilmu disusun berdasarkan bahasa, logika yang dapat membantu manusia memecahkan suatu masalah.
A artinya tidak dan gama kacau. Jadi agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksud agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya.
Sumber ilmu, empiris, Rasionalisme, Intuisi, Wahyu.dan sedangkan sumber agama ialah Al-Aqur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.
Saran
Dari makalah di atas sangat jauh dari sempurna, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran. Yang dimana sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah. Dan penulis menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dari segi bahasa utamanya dari segi  sastra bahasa, dan susunan kata. Demikian. Maka itu penulis demi kesempurnaan makalah ini.   

REFERENSI
Burhanuddin. Logika Material FilsafatIlmu Pengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997). 
Syafaruddin. Filsafat Ilmu Mengembangkan Kerativitas Dalam Proses Keilmuan.(Cita Pustaka Media Perintis, Cet-Kedua. 2010).  
Amsal Bakhtiar. Filasafat Ilmu. (Pt. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-10. Jakarta. 2011)
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia.(Pt.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009).
Lely Risnayati Daulay. Bahan Filsafat Umum Pendidikan Agama Islam. (Medan September, 2011).
Inu kencana Syafi’i.  filsafat Kehidupan.( Bumi Aksara,  Cet,. Ke-1. Jakarta, 1995).
Mohammad Al-Farabi. Metode Study Islam. (Medan 1 september. 2012).
http://blog-madesu.blogspot.com/2013/02/sumber-sumber-ajaran-dasar-agama-islam.html
Rachmat Syafe’i. Ilmu Ushul Fiqih. (Pustaka Setia Bandung, Cet ke-IV. 2010).
http://pemikiranibnukhaldun.blogspot.com/2011/04/ilmu-pengetahuan-agama-dan-akhlak.html



[1]Burhanuddun. Logika Material FilsafatIlmuPengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997).Hlm. 29-30  
[2] Syafaruddin. Filsafat Ilmu Mengembangkan Kerativitas Dalam Proses Keilmuan.(Cita Pustaka Media Perintis, Cet-Kedua. 2010). Hlm. 36.  
[3] Amsal Bakhtiar. Filasafat Ilmu. (Pt. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-10. Jakarta. 2011). Hlm.85
[4] Ibid, Hlm. 30-31.
[5] Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia.(Pt.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009). Hlm. 51.
[6] Ibid. Hlm. 87.
[7]  Burhanuddun. Logika Material FilsafatIlmuPengetahuan.(RinekaCipta, Cet. Ke- I. Jakarta. 1997).Hlm.28.
[8] Lely Risnayati Daulay. Bahan Filsafat Umum Pendidikan Agama Islam. (Medan September, 2011). Hlm. 23-24.
[9] Inu kencana Syafi’i.  filsafat Kehidupan.( Bumi Aksara,  Cet,. Ke-1. Jakarta, 1995). hlm.55. 
[10] Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia. (Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2009). Hlm. 41-43. 
[11] Ibid, hlm. 52.
[12] Amsal Bahkiar, filsafatIlmu,(Pt Raja GrafindoPersada,  Cet. Ke- 10 Jakarta. 2011). Hlm. 98-109
[13] Mohammad Al-Farabi. Metode Study Islam. (Medan 1 september. 2012). Hlm. 99-101
[14]  http://blog-madesu.blogspot.com/2013/02/sumber-sumber-ajaran-dasar-agama-islam.html
[15] Rachmat Syafe’i. Ilmu Ushul Fiqih. (Pustaka Setia Bandung, Cet ke-IV. 2010). Hlm. 69-71.
[16] Ibid, hlm. 86-88.
[17] http://pemikiranibnukhaldun.blogspot.com/2011/04/ilmu-pengetahuan-agama-dan-akhlak.html

SUHENDRA

Author & Editor

A Teacher || Businessman || Father || Warrior of Civilization

0 komentar:

Posting Komentar